Senin, 01 November 2010

Ancaman untuk Twitter, Facebook dan Jejaring Sosial Lainnya..

Siapa tak kenal Facebook dan Twitter? Pengguna Internet era ini pasti nyaris tak bisa lepas dari dua ajang gaul dunia maya itu. Facebook dan Twitter merupakan implementasi dari web 2.0. Apa itu web 2.0? Ini merupakan generasi terkini yang paling mendunia dari web, dimana semua pengguna web dapat mempublikasikan dan menerima informasi secara bebas, untuk saling berkolaborasi dan sosialisasi. Jika di era web 1.0 kita hanya dapat mengakses informasi saja, dengan segala keterbatasannya, maka di web 2.0 kita dapat membagikan informasi yang kita punya, baik itu bersumber dari kita sendiri atau dari sumber lain. Kita juga dimungkinkan langsung berinteraksi dengan sesama pengguna web.

Dengan semua kelebihan itu, tak heran jika web 2.0 membuat banyak orang tertarik menggunakan Internet. Mereka yang awalnya tidak kenal dunia maya, menjadi penasaran dan ingin mencoba, sebab kehebohan daya tarik web 2.0 ini. Memang menyenangkan, bahkan mencandui sebagian orang. Sehari saja tidak mengakses Facebook atau Twitter, rasanya ada yang kurang.

Sayangnya masih banyak orang belum sadar bahwa semua kemudahan berbagi dan mengakses informasi itu disertai dengan ancaman lain, yaitu malware yang juga memanfaatkan celah-celah yang ada.

Seperti kita tahu, beragam aplikasi web 2.0 tidak hanya digunakan di rumah, namun juga di lingkungan korporat. Berarti ada banyak data penting perusahaan yang dapat menjadi target para pencipta malware. Pengguna sendiri tidak sadar bahwa dirinya menjadi target serangan, karena terlalu asik menikmati banyak kemudahan, bahkan juga asik bersosialisasi memperluas jejaring pertemanan maupun bisnis. Yang lebih parah adalah jika pengguna tidak tahu kalau dirinya justru membantu serangan tersebut dan juga menjadi korbannya. Dari laboratorium virus kami, terlihat bahwa jejaring sosial kian popular menjadi sasaran pembuat malware. Setiap tahun, jumlah sampel malware yang berhubungan dengan jejaring sosial berlipatganda dibanding tahun sebelumnya.

Konsep anyar yang ditawarkan web 2.0 adalah mengubah gaya navigasi klasik menjadi jauh lebih interaktif. Bahkan pengguna bisa terus berhubungan melalui web 2.0 dengan perangkat bergeraknya seperti ponsel. Ya, ini seperti pemahaman dimana manusia terus menerus terhubung satu sama lain dengan web 2.0 sebagai medianya, dan beragam perangkat canggih yang mendukung. Dimana saja, kapan saja.

Malware Sebelum Web 2.0

Kini kita coba telaah apa yang membuat malware ikut menjadikan web 2.0 sebagai sasaran utamanya. Bagaimana malware menyebar sebelum era web 2.0? Perjalanan virus komputer dan malware kira-kira sama dengan perjalanan informasi itu sendiri. Di masa lalu, informasi secara fisik dipindahkan dari satu komputer ke komputer lain menggunakan media penyimpanan yang bervariasi. Pada awal tahun 1980-an, informasi menyebar melalui jejaring data pribadi yang mahal. Baru kemudian perlahan jaringan tersebut mulai digunakan oleh kalangan pebisnis untuk email dan transmisi informasi. Pada akhir dekade 1990 mulai banyak kasus serangan virus pada komputer di ranah pribadi dan bisnis, yang biasanya menyerang melalui email.

Tanpa terasa World Wide Web begitu cepat berkembang menjadi sebuah platform yang sangat bernilai bagi pertukaran informasi, perdagangan global, dan produktivitas dunia kerja. Perlahan tapi pasti, kita sadar bahwa tak semua informasi bisa kita bagi ke semua orang. Di sinilah kita ketahui bahwa informasi menjadi sangat berharga, hanya layak dibagikan ke pihak tertentu dan menjadi berbahaya ketika bocor atau rusak.

Selama itu juga muncul yang disebut dengan Era worm internet, dimana terjadi serangan Code Red, Blaster, Slammer dan Sasser ke sejumlah jaringan korporat. Tidak ketinggalan virus Melissa yang juga menyerang email, serta datang melalui pesan instan atau aplikasi peer-to-peer. Semua menargetkan Microsoft, sebab memang sistem operasi itu paling banyak dipakai. Mereka menghadapi semua serangan itu dengan penambahan firewall, dam menjalankan sejumlah mekanisme mitigasi anti-worm. Pengguna juga diajak untuk rajin memperbarui aplikasi pengaman Windows.

Mengapa web 2.0 Menjadi Sasaran Empuk Malware dan Penjahat Cyber?

Dalam tahun-tahun terakhir, situs jejaring sosial menjadi salah satu sumber informasi paling popular di Internet. RelevantView dan eVOC Insights memprediksi bahwa pada tahun 2009 situs jejaring sosial digunakan oleh 80% pengguna Internet seantero dunia, yang artinya lebih dari satu miliar orang. Pertumbuhan popularitas ini sudah pasti diketahui oleh para penjahat krinimal dunia maya. Maka tak heran sejumlah situs menjadi sasaran utama malware dan spam, di samping sejumlah tindak kejahatan lain.

Situs jejaring sosial seperti Facebook, MySpace atau Twitter, telah memukai jutaan pengguna Internet, sekaligus juga pelaku kriminal cyber.

Separah apakah serangan terhadap jejaring sosial ini?

Pada Januari 2008, sebuah aplikasi Flash bernama Secret Crush yang berisi link ke program AdWare terdapat pada Facebook. Lebih dari 1,5 juta pengguna mengunduhnya sebelum disadari oleh administrator situs.

Kaspersky Lab pada Juli 2008 mengidentifikasi sejumlah insiden yang melibatkan Facebook, MySpace dan VKontakte. Net-Worm.Win32.Koobface. menyebar ke seluruh jaringan MySpace dengan cara yang sama dengan Trojan-Mailfinder.Win32.Myspamce.a, yang terdeteksi di bulan Mei.

Twitter tak kalah jadi target, ketika pada Agustus 2009 diserang oleh penjahat cyber yang mengiklankan video erotis. Ketika pengguna mengkliknya, maka otomatis mengunduh Trojan-Downloader.Win32.Banload.sco. LinkedIn juga tak luput dari serangan malware pada Januari 2009, dimana penguna ditipu agar mengklik profil sejumlah selebriti, padahal mereka sudah mengklik link ke media player palsu. Sebulan kemudian YouTube menjadi incaran malware.

Bulan Juli 2009 kembali Twitter menjadi media infeksi modifikasi New Koobface, worm yang mempu membajak akun Twitter dan menular melalui postingannya, dan menjangkiti semua follower.

Semua kasus itu hanya sebagian dari begitu banyak kasus penyebaran malware di seantero jejaring sosial.

Artikel ini dipublikasikan dengan izin AVAR. AVAR 2010 yang akan diadakan tanggal 17-19 November 2010 di Nusa Dua – Bali mempresentasikan 30 paper sekuriti dari para pakar sekuriti dunia.

http://www.aavar.org/avar2010/19112011-07-stefan-surviving.html

Jumat, 04 Juni 2010

Resensi film Coblos Cinta

Sumber: coblos-cinta.html

Diambil dari novel Coblos Cinta karangan Fidwirida, Coblos Cinta salah satu film yang menarik bagi remaja. Berlandaskan kisah cinta yang unik yang terjadi antara Aldi dan Bella. Ketegangan bermula saat Bella mulai mencalonkan diri menjadi ketua BEM dikampusnya. Bella yang tidak memiliki pengetahuan tentang kegiatan aktifis dan hanya bermodal tampang doang mulai menyulut emosi Aldi yang sebagaimana dikenal ketua aktifis dan terkenal di kalangan mahasiswa maupun dosen sebagai cowok ganteng dan pintar.

Kampanye Aldi berhasil merebut hati anak-anak kampus dengan cara yang memang agak ”nakal”, tapi toh efektif. Sementara kampanye Bella terlalu lurus sehingga membosankan. Setelah disadarkan oleh tim-nya, Bella mengubah strateginya dan mulai melakukan politik yang sebenar-benarnya. Langkah itu berhasil, dan Bella mulai mengejar ketertinggalannya.
Tapi, semakin tegangnya kampanye membawa kedekatan bagi hubungan aldi dan bella. Aldi dan bella ternyata merasakan hal yang sama. Dan di satu malam, Aldi pun nyaris mencium Bella....


Kejadian tersebut terpotret oleh Anto, mahasiswa pengelola tabloid kampus, yang gemar mencari sensasi. Pacar Bella, Rhino, marah besar. Tim sukses Bella pun berantakan, karena ternyata Icha selama ini memendam perasaan suka pada Aldi. Dan ketegangan dan masalahpun terjadi. Ini adalah sebuah film yang penuh inspirasi, obsesi, percintaan dan perjuangan dan persahabatan. Oleh karena itu film ini layak untuk di tonton, dan direkomendasikan.


Jenis Film : Drama/ Komedi
Produser : Adiyanto Sumarjono
Produksi : Investasi Film Indonesia
Homepage : http://www.cobloscinta.com

Durasi : 90 Min


Cast & Crew
Pemain :
Nadia Saphira. Tommy Kurniawan
Ivan Gunawan
Adly Fayruz
Marrio Merdhitia
Gracia Indri
Jessica Iskandar
Tarra Budiman
Siti Anizah
Melvin Lim
Alessia Cestaro
Hamzah Notonegoro
Sutradara :
Findo Purwono Hw
Penulis :
Sesa Nasution
Imam Darto

Saat-saat di Angkot

Hari ini kota Yogyakarta bercuaca aneh, cuaca cerah tetapi segumpulan awan mulai berkumpul menjadi satu menandakan adanya hujan. Kami pun berencana pergi ke malioboro untuk mencari souvenir khas kota pelajar ini. Karena pergi dengan uang seadanya angkutan umum transportasi yang lumayan bagus untuk melaju kesana. Kopata merupakan angkutan pelajar mahasiswa maupun pelajar di kota ini. Angkutan ini bersifat lebih murah dan lebih merakyat. Kamipun memilih jalur 15 menuju ke Malioboro, sambil menunggu kopata dengan setia didepan Maskam UGM. Karena adanya perbaikan jalan, jalur disekitaran UGM menjadi macet dan lebih sempit. Itu semakin mempersulit untuk menaiki kopata karena banyak kendaraan yang melalu lintas jadi harus lebih berhati-hati agar tidak menjadi korban kecelakaan.
Jalur 15 mulai terlihat dengan kernet yang berdiri dan dengan tangan terjuntai sebelah dia meneriakkan malioboro,,maliboboro, kemudian orang-orang menaikinya. Dengan senyum yang sama sekali bisa dikatakan tidak ramah pak kernet menanyakan kearah mana tujuan dan dengan tersipu malu menjawab ke malioboro. Kemudian pak kernet menariki ongkos naik kopata ini, dengan bermodalkan uang Rp 2.500,- rupiah penumpang bisa sampai di Malioboro. Kamipun naik angkot kopata ini bersama mahasiswa yang lain, bau asap, keringat becucuran, apek, kotor, sampah rokok,kepanasan dan angin sepoi-sepoi malu-malu masuk melalui celah lubang anginpun terlihat. Pak kernet pun menagih ongkos dengan tertawa sambil menggoda.
Ketika sampai melewati mirota kampus angkot berhenti disitu bermaksud mencari penumpang lainnya dan disitu banyak pengamen jalanan masuk ke angkot, bermodalkan gitar mereka bernyanyi dengan berpakaian lusuh dan suara yang pas-pasan membuat hati semakin enggan memberikan mereka uang tetapi terlintas di benak ini jika tidak memberinya maka dia akan makan apa dan akankah mendapat penghasilan lainnya?maka dengan perasaan tak tega kami memberikan uang sekadarnya kepada si pengamen lusuh. Tidak hanya pengamen jalanan namun pedagang asongan pun naik ke angkot, menawarkan makanan kecil dan minuman ringan lainnya,tetapi entah mata ini tak tertarik sama sekali untuk meliriknya,karena takut sakit perut akibat jajan sembarangan maka tak ada minat untuk mencicipi jajanan yang sebetulnya bisa menyegarkan dahaga. Tak lama kemudian angkot mulai melaju terlihat awan gelap kemudian hujan rintik-rintik turun dengan malu-malunya kemudian turun dengan sangat derasnya. Karena bagian atas atap yang bocor dan sisi samping jendela yang tak bisa ditutup membuat air masuk ke angkot ini,secara tak langsung penumpang bermandikan air hujan. Celakanya kami lupa membawa payung ditambah lupa pula akan peringatan BMG yang menyatakan, “Yogyakarta selama 3 hari akan di guyur hujan deras ditambah petir yang menggelegar dan disertai dengan angin yang kencang”. Hal itu semakin membuat penumpang panik, ditambah jalanan macet dan banyak pohon di jalan yang tumbang membuat semakin takut,serta sesaat setelahnya listrikpun padam. Akhirnya, membuat ekspedisi untuk mencari souvenir kota jogja pun sirna karena hujan yang sangat deras dan petir menggelegar dimanapun ditambah angin yang kencang. Hal ini diperparah dengan pak supir yang menurunkan kami bukan di Malioboro tetapi di Beringharjo. Demi menahan dahaga, akhirnya mampir ke supermarket Progo bermaksud berteduh dan membiarkan baju kering. Hal ini mengingatkan jika bepergian menggunakan angkot akan berpikir terlebih dahulu, berbeda jika kami menggunakan trans Jogja yang menjadi maskot transportasi kota Jogja ini yang dilengkapi dengan fasilitas serba mewah maka tidak akan ada kata pengamen maupun pedagang asongan berjualan di bis ini. Tak akan adanya atap yang bocor, namun terlihat orang-orang yang berdiri berdesakan apabila tidak mendapatkan tempat duduk.
Ternyata pemerintah seharusnya melirik transportasi masyarakat kelas kebawah, apakah layak untuk umum atau tidaknya. Tidak hanya mengurusi transportasi kelas atas yang ditingkatkan baik dari jumlahnya maupun fasilitasnya. Hal ini membuat kita berpikir tentang kehidupan realita masyarakat ekonomi ke bawah itu seperti apa.

Fenomena musik di Indonesia

Musik sekarang tak hanya menjadi ajang trend, tetapi melalui musik dapat dijadikan ajang pencarian bakat kemampuan seseorang. Contohnya saja dengan adanya Indonesian Idol ataupun Idola Cilik, seseorang di tuntut untuk kemampuan vokal yang bagus untuk menjadi seorang idol. Hal ini bukan saja menjadi ajang sebuah hiburan tetapi di lihat dari segi materi musik dapat di jadikan suatu investasi untuk menunjang pendapatan.
Jika kita lihat lebih jauh dikalangan anak didik, musik menjadi salah satu program pelajaran. Contohnya saja banyak pihak-pihak swasta ataupun lembaga musik yang memberikan program kelas musik bagi anak didik. Seperti kelas piano, kelas gitar, kelas biola dan kelas saxofone ataupun yang lainnya. Hal ini membutuhkan bakat, kemampuan dan talenta serta materi penunjang yang tidak sedikit dan membutuhkan biaya yang begitu mahal. Banyaknya para orangtua yang memberikan pendidikan khusus selain pendidikan sekolah menunjukkan apresiasi orangtua tehadap perkembangan anak dalam program musik. Fenomena-fenomena ini banyak sekali dapat ditemukan di Indonesia. Musik tidak hanya menjadi hobi melainkan sesuatu yang dapat membuat populer seseorang. Contohnya saja, jika kita lihat di TV banyak band bermunculan dengan jenis musik dan aliran yang berbeda. Mereka tidak saja menunjukkan kemampuan bermusik mereka, namun mereka melalui musik mencari pendapatan pribadi untuk menopang hidup mereka. Walaupun pasar industri musik melesat tinggi jika di lihat dari reality show tetapi jika di lihat melalui album mereka akan berkebalikan. Bisa saja di TV menjadi terkenal, namun melalui penjualan album rekaman kualitasnya rendah.
Bisa dikatakan orang yang bisa mempelajari musik adalah orang kaya. Karena di butuhkan begitu mahalnya biaya untuk menunjang fasilitas kemampuan dalam hal bermusik. Di Indonesia, masih jarang kita temukan commposer yang berbakat, karena keterbatasan biaya untuk belajar di sekolah musik. Jika kita melihat lebih jauh mengapa pemerintah tidak membuat sekolah khusus untuk program musik tetapi dengan biaya yang lebih terjangkau sehingga masyarakat ekonomi ke bawah bisa merasakan sekolah musik yang jauh lebih murah?

Diperjalananku

Yogyakarta sebagai kota pelajar tentunya banyak mengundang orang dari berbagai daerah manapun di seluruh Indonesia. Karena terkenal dengan kota pendidikan maupun budaya maka para pelajar maupun wisatawan banyak berdatangan di kota ini. Tak luput banyak kendaraan dari berbagai macam daerah sehingga jalanan pun ramai dengan bermacam kendaraan dari berbagai daerah sehingga sering terjadi kemacetan. Perempatan sagan adalah jalanan yang sering saya lalui untuk pergi ke gereja. Namun kali ini bepergian tak menggunakan motor maupun mobil,namun menggunakan sepeda sebagai kendaraan pribadi yang cukup lumayan mengirit tenanga maupun biaya. Ketika mengendarainya di tengah terik matahari,panas maupun lelah hal yang sering terasa, namun itu tak memudarkan semangat yang bergejolak tinggi untuk mengeyam pendidikan di kota ini. Satu hal yang sering terlintas dipenglihatan ini, ketika berada di perempatan adalah melihat bangjo. Bangjo istilah jawanya adalah lampu lalu lintas, yang berasal dari abang-ijo, bertujuan melancarkan perjalanan lalu lintas, namun tak sedikit pengendara yang kadang-kadang melanggar lalu lintas. Lampu kuning di kodekan agar berjalan pelan-pelan, tetapi anehnya justru kebanyakan pengendara pada lampu ini malah melaju dengan kencangnya seolah ingin berlaju dengan kecepatan yang tinggi seakan dikejar sesuatu.
Hal lain yang membuat tertarik penglihatan ini adalah melihat banyaknya pengemis jalanan. Para pengemis ini terdiri dari orang dewasa yang paruh baya yang mungkin bisa kita katakan mereka masih mampu untuk mencari pekerjaan yang lebih lanyak dari pada hanya meminta-minta di jalanan. Adapun banyak juga anak-anak kecil yang dipaksa untuk bekerja sebagai pengemis maupun pengamen untuk mencari uang sekadarnya dibawah teriknya matahari ,bisingnya kendaraan maupun panasnya asap knalpot. Padahal seharusnya mereka tidak harus ada ditempat seperti itu, mereka seharusnya layak untuk mengeyam bangku sekolah sebagaimana anak-anak lainnya yang seumuran mereka. Terlintaskan sesuatu yang membuat saya berpikir, jika bangsa kita para generasi muda saja seperti ini terus maka lambat laun bangsa ini akan bobrok dan hancur. Akankah kita biarkan begitu saja?

nge-resensi Laskar Pelangi yUkkk,..

sumber : http://itisrama.blogspot.com/2008/09/resensi-film-laskar-pelangi.html.


Tanggal 25 September kemarin, aku termasuk dari sedikit orang yang beruntung mendapatkan kesempatan untuk menonton premiere Laskar Pelangi. Tentunya seneng banget rasanya, karena buat aku novel Laskar Pelangi memang sudah begitu spesial. Film yang diangkat dari bagian pertama novel tetralogi dengan judul yang sama ini memang begitu fenomenal. Pada postingan sebelumnya udah aku ceritain gimana menggebu-gebunya antusias dari warga Jogja untuk berebutan nonton film yang disutradarai oleh Riri Riza dan diproduseri Mira Lesmana ini.

Film berdurasi sekitar 2 jam ini menceritakan kehidupan 10 anak untuk mendapatkan pendidikan di salah satu pulau terkaya Indonesia, Belitong (bagian dari Provinsi Bangka Belitung). Bersama dua guru terkasih mereka, Ibu Muslimah (Cut Mini) dan Pak Harfan (Ikranagara) mereka berhasil membuktikan bahwa keterbatasan tidak mampu untuk menghambat semangat mereka untuk berprestasi dalam pendidikan.



Ikal, Lintang dan Mahar adalah salah satu dari murid-murid spesial di SD Muhammadiyah Gantong, bersama ketujuh teman mereka yang lain mereka tergabung dalam Laskar Pelangi. Mahar dengan cita rasa seninya yang tinggi berhasil membuat SD Muhammadiyah berprestasi pada Lomba Karnaval 17-an. Juga Lintang yang cerdas mampu menjadikan SD Muhammadiyah memenangkan perlombaan cerdas cermat, meskipun akhirnya nasib buruk menimpanya. Sementara Ikal yang terlibat asmara dengan seorang putri tionghoa. Keseluruhan kisah mampu terjamu secara apik dan mengharukan.
Secara umum film ini memang mendidik sekaligus menghibur. Namun durasi film yang cukup singkat untuk sebuah adaptasi dari banyak kisah dalam buku Laskar Pelangi cukup banyak memangkas banyak cerita aslinya (sesuai dalam buku). Aku sedikit kecewa, pemangkasan cerita itu malah dibumbui oleh beberapa kisah yang tidak terdapat dalam buku. Mungkin itulah yang dinamakan adaptasi, tidak selalu berpatokan pada cerita asalnya.

Andrea Hirata sendiri mengatakan "Film Laskar Pelangi merupakan karya sineas film, bukan karya saya, sehingga saya tidak akan banyak ikut campur dalam pembuatannya". Anjuran aku, bila ingin lebih puas memaknai kisah Laskar Pelangi, lebih baik sebelum atau sesudah melihat film untuk membaca bukunya. Sejujurnya kisah Laskar Pelangi memang begitu panjang dan bermakna untuk diwujudkan dalam sebuah film.

Senada dengan Andrea Hirata, aku kini mulai memandang film dan buku Laskar Pelangi sebagai dua karya dari dua bidang seni yang berbeda. Baik film maupun novel mempunyai kelebihan masing-masing, juga penggemar tersendiri. Dibanding film-film Indonesia lainnya yang bertebaran di bioskop saat ini, Laskar Pelangi mampu menyuguhkan tontonan yang lebih bermutu sekaligus mendidik. Ayo rame-rame tonton film ini di bioskop terdekat, tapi harus cepat-cepat karena tiketnya terbatas dan laku keras, hehehe.

___________________________________________________________________________
Resensi:
Resensi film di atas termasuk dalam jenis resensi deskriptif, yaitu resensi yang hanya menjelaskan secara singkat mengenai isi, proses, dan penciptaan sebuah karya film. Tidak hanya menjelaskan baik-buruknya film, tetapi juga membandingkan film dengan buku aslinya. Dengan membaca resensi film ini paling tidak kita tahu lebih dulu gambaran mengenai film ini, sehingga kita bisa mengira-ngira apakah film Laskar Pelangi layak untuk ditonton atau tidak. Dengan adanya ajakan dari penulis resensi maka pembaca diharapkan untuk menonton film laskar Pelangi, karena menyuguhkan tontonan yang lebih bermutu sekaligus mendidik.

Sepotong Senja Untuk Pacarku

Seno Gumira Adjidarma

Alina tercinta,
Bersama surat ini kukirimkan padamu sepotong senja–dengan angin, debur ombak, matahari terbenam, dan cahaya keemasan. Apakah kamu menerimanya dalam keadaan lengkap?
Seperti setiap senja di setiap pantai, tentu ada juga burung-burung, pasir yang basah, siluet batu karang, dan barangkali juga perahu lewat di jauhan. Maaf, aku tidak sempat menelitinya satu persatu. Mestinya ada juga lokan, batu yang berwarna-warni, dan bias cahaya cemerlang yang berkeretap pada buih yang bagaikan impian selalu saja membuat aku mengangankan segala hal yang paling mungkin kulakukan bersamamu meski aku tahu semua itu akan tetap tinggal sebagai kemungkinan yang entah kapan menjadi kenyataan.
Kukirimkan sepotong senja ini untukmu Alina, dalam amplop yang tertutup rapat, dari jauh, karena aku ingin memberikan sesuatu yang lebih dari sekedar kata-kata.
Sudah terlalu banyak kata di dunia ini Alina, dan kata-kata, ternyata, tidak mengubah apa-apa. Aku tidak akan menambah kata-kata yang sudah tak terhitung jumlahnya dalam sejarah kebudayaan manusia Alina.
Untuk apa? Kata-kata tidak ada gunanya dan selalu sia-sia. Lagi pula siapakah yang masih sudi mendengarnya? Di dunia ini semua orang sibuk berkata-kata tanpa peduli apakah ada orang lain yang mendengarnya. Bahkan mereka juga tidak peduli dengan kata-katanya sendiri. Sebuah dunia yang sudah kelebihan kata-kata tanpa makna. Kata-kata sudah luber dan tidak dibutuhkan lagi. Setiap kata bisa diganti artinya. Setiap arti bisa diubah maknanya. Itulah dunia kita Alina.
Kukirimkan sepotong senja untukmu Alina, bukan kata-kata cinta. Kukirimkan padamu sepotong senja yang lembut dengan langit kemerah-merahan yang nyata dan betul-betul ada dalam keadaan yang sama seperti ketika aku mengambilnya saat matahari hampir tenggelam ke balik cakrawala.
Alina yang manis, Alina yang sendu, Akan kuceritakan padamu bagaimana aku mendapatkan senja itu untukmu.
Sore itu aku duduk seorang diri di tepi pantai, memandang dunia yang terdiri dari waktu. Memandang bagaimana ruang dan waktu bersekutu, menjelmakan alam itu untuk mataku. Di tepi pantai, di tepi bumi, semesta adalah sapuan warna keemasan dan lautan adalah cairan logam meski buih pada debur ombak yang menghempas itu tetap saja putih seperti kapas dan langit tetap saja ungu dan angin tetap saja lembab dan basah, dan pasir tetap saja hangat ketika kuusapkan kakiku ke dalamnya.
Kemudian tiba-tiba senja dan cahaya gemetar.
Keindahan berkutat melawan waktu dan aku tiba-tiba teringat padamu.
“barangkali senja ini bagus untukmu,” pikirku. Maka kupotong senja itu sebelum terlambat, kukerat pada empat sisi lantas kumasukkan ke dalam saku. Dengan begitu keindahan itu bisa abadi dan aku bisa memberikannya padamu.
Setelah itu aku berjalan pulang dengan perasaan senang. Aku tahu kamu akan menyukainya karena kamu tahu itulah senja yang selalu kamu bayangkan untuk kita. Aku tahu kamu selalu membayangkan hari libur yang panjang, perjalanan yang jauh, dan barangkali sepasang kursi malas pada sepotong senja di sebuah pantai di mana kita akan bercakap-cakap sembari memandang langit sambil berangan-angan sambil bertanya-tanya apakah semua ini memang benar-benar telah terjadi. Kini senja itu bisa kamu bawa ke mana-mana.
Ketika aku meninggalkan pantai itu, kulihat orang-orang datang berbondong-bondong, ternyata mereka menjadi gempar karena senja telah hilang. Kulihat cakrawala itu berlubang sebesar kartu pos.
Alina sayang,
Semua itu telah terjadi dan kejadiannya akan tetap seperti itu. Aku telah sampai ke mobil ketika di antara kerumunan itu kulihat seseorang menunjuk-nunjuk ke arahku.
“Dia yang mengambil senja itu! Saya lihat dia mengambil senja itu!”
Kulihat orang-orang itu melangkah ke arahku. Melihat gelagat itu aku segera masuk mobil dan tancap gas.
“Catat nomernya! Catat nomernya!”
Aku melejit ke jalan raya. Kukebut mobilku tanpa perasaan panik. Aku sudah berniat memberikan senja itu untukmu dan hanya untukmu saja Alina. Tak seorang pun boleh mengambilnya dariku. Cahaya senja yang keemasan itu berbinar-binar di dalam saku. Aku merasa cemas karena meskipun kaca mobilku gelap tapi cahaya senja tentu cukup terang dilihat dari luar. Dan ternyata cahaya senja itu memang menembus segenap cahaya dalam mobilku,sehingga mobilku itu meluncur dengan nyala cemerlang ke aspal maupun ke angkasa.
Dari radio yang kusetel aku tahu, berita tentang hilangnya senja telah tersebar ke mana-mana. Dari televisi dalam mobil bahkan kulihat potretku sudah terpampang. Aduh. Baru hilang satu senja saja sudah paniknya seperti itu. Apa tidak bisa menunggu sampai besok? Bagaimana kalau setiap orang mengambil senja untuk pacarnya masing-masing? Barangkali memang sudah waktunya dibuat senja tiruan yang bisa dijual di toko-toko,dikemas dalam kantong plastik dan dijual di kaki lima. Sudah waktunya senja diproduksi besar-besaran supaya bisa dijual anak-anak pedagang asongan di perempatan jalan.
“Senja! Senja! Cuma seribu tiga!”
Di jalan tol mobilku melaju masuk kota.Aku harus hati-hati karena semua orang mencariku. Sirene mobil polisi meraung-raung di mana-mana. Cahaya kota yang tetap gemilang tanpa senja membuat cahaya keemasan dari dalam mobilku tidak terlalu kentara. Lagi pula di kota, tidak semua orang peduli apakah senja hilang atau tidak. Di kota kehidupan berjalan tanpa waktu, tidak peduli pagi siang sore atau malam. Jadi tidak pernah penting senja itu ada atau hilang. Senja cuma penting untuk turis yang suka memotret matahari terbenam. Boleh jadi hanya demi alasan itulah senja yang kubawa ini dicari-cari polisi.
Sirene polisi mendekat dari belakang. Dengan pengeras suara polisi itu memberi peringatan.
“Pengemudi mobil Porsche abu-abu metalik nomor SG 19658 A, harap berhenti. Ini Polisi. Anda ditahan karena dituduh telah membawa senja. Meskipun tak ada aturan yang melarangnya, tapi berdasarkan…”
Aku tidak sudi mendengarnya lebih lama lagi. Jadi kubilas dia sampai terpental keluar pagar tepi jalan. Kutancap gas dan menyelip-nyelip dengan lincah di jalanan. Dalam waktu singkat kota sudah penuh raungan sirene polisi. Terjadi kejar-kejaran yang seru.Tapi aku lebih tahu seluk-beluk kota, jalanan dengan cahaya yang bernmain warna, gang-gang gelap yang tak pernah tercatat dalam buku alamat, lorong-lorong rahasia yang hanya diperuntukkan bagi orang-orang di bawah tanah.
Satu mobil terlempar di jalan layang, satu mobil lain tersesat di sebuah kampung, dan satu mobil lagi terguling-guling menabrak truk dan meledak lantas terbakar.Masih ada dua polisi bersepeda motor mengejarku. Ini soal kecil. Mereka tak pernah bisa mendahuluiku, dan setelah kejar-kejaran beberapa lama, mereka kehabisan bensin dan pengendaranya cuma bisa memaki-maki. Kulihat senja dalam saku bajuku. Masih utuh. Angin berdesir. Langit semburat ungu. Debur ombak menghempas ke pantai. Hanya padamulah senja ini kuserahkan Alina.
Tapi Alina, polisi ternyata tidak sekonyol yang kusangka. Di segenap sudut kotak mereka telah siap siaga. Bahkan aku tak bisa membeli makanan untuk mengisi perutku. Bahkan di langit tanpa senja, helikopter mereka menyorotkan lampu di setiap celah gedung bertingkat. Aku tersudut dan akhirnya nyaris tertangkap. Kalau saja tidak ada gorong-gorong yang terbuka.
Mobilku sudah kutinggal ketika memasuki daerah kumuh itu. Aku berlari di antara gudang, rumah tua,tiang serta temali. Terjatuh di atas sampah, merayapi tangga-tangga reyot, sampai seorang gelandangan menuntunku ke suatu tempat yang tak akan pernah kulupakan dalam hidupku.
“Masuklah,” katanya tenang, “disitu kamu aman.
Ia menunjuk gorong-gorong yang terbuka itu. Ada tikus keluar dari sana. Banya bacin dan pesing. Kutengok ke bawah. Kulihat kelelawar bergantungan. Aku ragu-ragu.Namun deru helikopter dengan lampu sorotnya yang mencari-cari itu melenyapkan keraguanku.
“Masuklah, kamu tidak punya pilihan lain.”
Dan gelandangan itu mendorongku. Aku terjerembab jatuh. Bau busuknya bukan main. Gorong-gorong itu segera tertutup dan kudengar gelandangan itu merebahkan diri di atasnya. Lampu sorot helikopter menembus celah gorong-gorong tapi tak cukup untuk melihatku. Kurabah senja dalam kantongku, cahayanya yang merah keemas-emasan membuat aku bisa melihat dalam kegelapan. Aku melangkah dalam gorong-gorong yang rupanya cukup tinggi juga. Kusibukkan kelelawar bergantungan yang entah mati entah hidup itu. Kulihat cahaya putih di ujung gorong-gorong. Air busuk mengalir setinggi lutut, namun makin ke dalam makin surut. Di tempat yang kering kulihat anak-anak gelandangan duduk-duduk maupun tidur-tiduran, mereka berserakan memeluk rebana dengan mata yang tidak memancarkan kebahagian.
Aku berjalan terus melangkahi mereka dan coba bertahan. Betapa pun ini lebih baik daripada harus menyerahkan senja Alina.
Di ujung gorong-gorong,di temapt cahaya putih itu, ada tangga menurun ke bawah. Kuikuti tangga itu. Cahaya semakin terang dan semakin benderang. Astaga. Kamu boleh tidak percaya Alina, tapi kamu akan terus membacanya. Tangga itu menuju ke mulut sebuah gua, dan tahukah kamu ketika aku keluar dari gua itu aku ada di mana? Di tempat persisi sama dengan tempat di mana aku mengambil senja itu untukmu Alina. Sebuah pantai dengan senja yang bagus:ombak,angin,dan kepak burung?tak lupa cahaya keemasan dan bias ungu pada mega-mega yang berarak bagaikan aliran mimpi. Cuma saja tidak ada lubang sebesar kartu pos. Jadi, meskipun persis sama,tapi bukan tempat yang sama.
Aku berjalan ke tepi pantai. Tenggelam dalam guyuran alam yang perawan. Nyiur tentu saja, matahari, dan dasat lautan yang bening dengan lidah ombak yang berdesis-desis. Tak ada cottage , tak ada barbeque, tak ada marina.
“semua itu memang tidak perlu. Senja yang bergetar melawan takdir membiaskan cahaya keemasan ke tepi semesta. Aku sering malu sendiri melihat semua itu. Alina, apakah semua itu mungkin diterjemahkan dalam bahasa?”
Sambil duduk di tepi pantai aku berpikir-pikir, untuk apakah semua ini kalau tidak ada yang menyaksikannya? Setelah berjalan ke sana ke mari aku tahu kalau dunia dalam gorong-gorong ini kosong melompong. Tak ada manusia, tak ada tikus, apalagi dinosaurus. Hanya burung yang terkepak, tapi ia sepertinya bukan burung yang bertelur dan membuat sarang. Ia hanya burung yang dihadirkan sebagai ilustrasi senja. Ia hanya burung berkepak dan berkepak terus disana. Aku tak habis pikir Alina, alam seperti ini dibuat untu apa? Untuk apa senja yang bisa membuat seseorang ingin jatuh cinta itu jika tak ada seekor dinosaurus pun menikmatinya? Sementara di atas sana orang-orang ribut kehilangan senja….
Jadi, begitulah Alina, kuambil juga senja itu. Kukerat dengan pisau Swiss yang selalu kubawa, pada empat sisinya, sehingga pada cakrawala itu terbentuk lubang sebesar kartu pos. Dengan dua senja di saku kiri dan kanan aku melangkah pulang. Bumi berhenti beredar di belakangku, menjadi kegelapan yang basah dan bacin. Aku mendaki tangga kembali menuju gorong-gorong bumiku yang terkasih.
Sampai di atas, setelah melewati kalelawar bergantungan,anak-anak gelandangan berkaparan, dan air setinggi lutut, kulihat polisi-polisi helikopter sudah pergi. Gelandangan yang menolongku sedang tiduran di bawah tiang listrik sambil meniup saksofon.
Aku berjalan mencari mobilku. Masih terparkir dengan baik di supermarket. Nampaknya bahkan baru saja dicuci. Sambil mengunyah pizza segera kukebut mobilku menuju pantai. Dengan dua senja di saku kiri dan kanan, lengkap dengan matahari,laut,pantai, dan cahaya keemasannya masing-masing, mobilku bagai memancarkan cahaya Ilhai. Sepanjang jalan layang, sepanjang jalan tol, kutancap gas dengan kecepatan penuh…
Alina kekasihku, pacarku, wanitaku.
Kamu pasti sudah tahu apa yang terjadi kemudian. Kupasang senja yang dari gorong-gorong pada lubang sebesar kartu pos itu dan ternyata pas. Lantas kukirimkan senja yang ?asli? ini untukmu, lewat pos.
Aku ingin mendapatkan apa yang kulihat pertama kali: senja dalam arti yang sebenarnya?bukan semacam senja yang ada di gorong-gorong itu.
Kini gorong-gorong itu betul-betul menjadi gelap Alina. Pada masa yang akan datang orang-orang tua akan bercerita pada cucunya tentang kenapa gorong-gorong menjadi gelap.Meraka akan berkisah bahwa sebenarnya ada alam lain di bawah gorong-gorong dengan matahari dan rembulannya sendiri, namun semua itu tida lagi karena seorang telah mengambil senja untuk menggantikan senja lain di atas bumi. Orang-orang tua itu juga akan bercerita bahwa senja yang asli telah dipotong dan diberikan oleh seseorang kepada pacarnya.
Alina yang manis, paling manis, dan akan selalu manis, Terimalah sepotong senja itu, hanya untukmu, dari seseorang yang ingin membahagiakanmu. Awas hati-hati dengan lautan dan matahari itu, salah-salah cahayanya membakar langit dan kalau tumpah airnya bisa membanjiri permukaan bumi.
Dengan ini kukirimkan pula kerinduanku padamu, dengan cium, peluk, dan bisikan terhangat, dari sebuah tempat yang paling sunyi di dunia.
–Cerpen Pililihan Kompas 1993

http://sukab.wordpress.com

Yang menarik disini adalah bagaimana perjuangan seseorang mendapatkan senja yang akan ia persembahkan kepada kekasihnya. Bermaksud mengirim senja agar kekasihnya bahagia, tetapi malah ia terjebak saat dimana polisi berusaha mencari pelaku penculik senja dan saat itu juga ada seorang gelandangan menolongnya dan membawanya ke gorong-gorong gelap dan tercium bau busuk dimanapun dan ternyata gorong gelap itu membawanya kepada pantai dimana ia mengambil senja itu.,..

Minggu, 30 Mei 2010

Rembulan dalam Cappuccino

Rembulan dalam Cappuccino

SEMINGGU setelah perceraiannya, perempuan itu memasuki sebuah kafe,
dan memesan Rembulan dalam Cappuccino. Ia datang bersama senja, dan
ia harus menunggu malam tiba untuk mendapatkan pesanannya.

CAPPUCCINO1 dalam lautan berwarna coklat, datang langsung dari
tercemplung cangkir, tenggelam sebentar, tapi lantas pingpong-tapi
bukan bola pingpong, ini rembulan. Semua orang berada dalam kafe diam-
diam melangkah keluar, menengok ke langit, ingin membuktikan dengan
mata kepala sendiri bahwa terapung-apung cangkir perempuan
sebenarnya, seperti telah pelajari semenjak di sekolah dasar, yakni
yang tiada pernah mereka saksikan sisi gelapnya, dan rembulan itu
memang sudah tidak ada.

Mereka bergumam, tapi tidak menjadi gempar, bahkan pura-pura seperti
tidak terpengaruh sama sekali. Mereka kembali duduk, berbincang
dengan bahasa yang beradab, namun diam-diam melirik, seperti
kepalsuan yang telah biasa mereka peragakan selama ini.
Para pelayan
yang berbaju putih lengan panjang, mengenakan rompi, berdasi kupu-
kupu, dan rambutnya tersisir rapi diam-diam juga memperhatikan.
Semenjak kafe itu berdiri sepuluh tahun lalu, baru kali ini ada yang
memesan Rembulan dalam Cappuccino. Kafe itu memang menyediakannya,
dan minuman itu memang hanya bisa dipesan satu kali, karena rembulan
memang hanya satu.

“Rembulan dalam Cappuccino, satu!” Teriak pelayan ke dapur, dan
kepala bagian dapur memijit-mijit nomor hp, seolah-olah ada persiapan
khusus.

“Akhirnya tiba juga pesanan ini,” katanya, “aku sudah bosan
melihatnya di daftar menu tanpa pernah ada yang pesan.”

Kepala dapur itu bicara dengan entah siapa melalui hp.

“Iyalah, turunin aja, sudah tidak ada lagi yang membutuhkan rembulan.”

Perempuan itu bukan tidak tahu kalau orang-orang memperhatikannya.
Apakah perempuan itu akan memakan rembulan itu, menyendoknya sedikit
demi sedikit seperti menyendok es krim, ataukah akan menelannya
begitu saja seperti Dewa Waktu menelan matahari?

Ia memperhatikan rembulan yang terapung-apung di cangkirnya,
permukaan cappuccino masih dipenuhi busa putih, seperti pemandangan
Kutub Utara-tapi cappuccino itu panas, bagaikan masih mendidih. Ia
senang dengan penampakan itu, dingin tapi panas, panas tapi dingin,
segala sesuatu tidak selalu seperti tampaknya.

SEMINGGU kemudian, seorang lelaki memasuki kafe itu, dan memesan
minuman yang sama.

“Rembulan dalam Cappuccino,” katanya.

Para pelayan saling berpandangan.

“Oh, minuman itu sudah tidak lagi ada Tuan, seorang perempuan telah
memesannya minggu lalu.”

Lelaki itu terpana.

“Apakah Tuan tidak memperhatikan, sudah tidak ada rembulan lagi dalam
seminggu ini?”

Lelaki itu tersentak.

“Seorang perempuan? Istri saya? Eh, maaf, bekas istri saya?”

Para pelayan saling berpandangan. Salah seorang pelayan menjelaskan
ciri-ciri perempuan yang telah memesan Rembulan dalam Cappuccino itu.

“Ah, pasti dia! Dasar! Apa sih yang tidak ingin ditelannya dari dunia
ini? Apakah dia makan rembulan itu?”

Para pelayan saling berpandangan lagi.

“Tidak Tuan…”

“Jadi?”

“Kalau memang perempuan itu istri Tuan…”

“Bekas….”

“Maaf, bekas istri Tuan, mungkin Tuan masih bisa mendapatkan rembulan
itu.”

“Maksudmu?”

“Dia tidak memakannya Tuan, dia minta rembulan itu dibungkus.”

“Dibungkus?”

“Ya Tuan, ia tidak menyentuhnya sama sekali, hanya memandanginya saja
berjam-jam.”

Para pelayan di kafe itu teringat, betapa perempuan itu mengaduk-aduk
Rembulan dalam Cappuccino, bahkan menyeruput cappuccino itu sedikit-
sedikit, tapi tidak menyentuh rembulan itu sama sekali. Perempuan itu
hanya memandanginya saja berlama-lama, sambil sesekali mengusap air
mata.

Mereka ingat, perempuan itu masih di sana dengan air mata bercucuran,
dan masih tetap di
sana, kebetulan di tempat sekarang lelaki itu
duduk, sampai tamu-tamu di kafe itu habis menjelang dini hari.

Kemudian dia meminta rembulan itu dibungkus. Ketika dibungkus,
rembulan sebesar bola pingpong yang semula terapung-apung di dalam
cangkir itu berubah menjadi sebesar bola basket.

Itulah sebabnya kepala dapur meminta agar pencoretan Rembulan dalam
Cappuccino dari daftar menu ditunda.

“Rembulan itu belum hilang,” katanya, “siapa tahu perempuan itu
mengembalikannya.”

Lelaki itu memandang pelayan yang berkisah dengan seru. Ia baru sadar
semua orang memandang ke arahnya. Ketika ia menoleh, tamu-tamu lain
itu segera berpura-pura tidak peduli, padahal penasaran sekali.

“Kalau dia muncul lagi, tolong katakan saya juga mau rembulan itu.”

“Ya Tuan.”

Lelaki itu melangkah pergi, tapi sempat berbalik sebentar.

“Dan tolong jangan panggil saya Tuan,” katanya, “seperti main drama
saja.”

Padahal ia sangat menikmati perlakuan itu-seperti yang dilakukan
bekas istrinya sebelum mereka berpisah.

TIADA rembulan di langit. Tidak pernah terbayangkan akan terjadi
betapa tiada lagi rembulan di langit malam. Namun di
kota cahaya,
siapakah yang masih peduli rembulan itu ada atau tidak?

“Yang masih peduli hanyalah orang- orang romantis,” kata perempuan
itu kepada dirinya sendiri.

“Atau pura-pura romantis,” katanya lagi.

Dia berada di suatu tempat tanpa cahaya, kelam, begitu kelam, seperti
ditenggelamkan malam, sehingga bintang-bintang yang bertaburan tampak
jelas, terlalu jelas, seperti peta dengan nama-nama
kota. Perempuan
itu belum lupa, apalah artinya nasib satu manusia di tengah semesta,
nasib yang sebetulnya jamak pula dialami siapa pun jua di muka bumi
yang sebesar merica.

Namun, ia merasa bagaikan kiamat sudah tiba. Agak malu juga
sebetulnya.

Banyak orang lain harus hidup dengan gambaran bagaimana ayahnya
diambil dari rumahnya di tengah malam buta. Digelandang dan diarak
sepanjang
kota sebelum akhirnya disabet lehernya dengan celurit
sehingga kepalanya menggelinding di jalanan dan darahnya menyembur ke
atas seperti air mancur deras sekali sampai menciprati orang-orang
yang mengaraknya itu. Tidak sedikit orang yang hidup dengan kutukan
betapa ibunya telah menjadi setan jalang yang memotong-motong alat
kelamin lelaki sambil menyanyi dan menari, dan karena itu berhak
disiksa dan diperkosa, padahal semua itu merupakan kebohongan
terbesar di muka bumi. Hidup ini bisa begitu buruk bagi orang baik-
baik meskipuntidak mempunyaikesalahan samasekali. Tanpa pembelaan
sama sekali.2 Tanpa pembelaan. Tanpa…

Langit malam tanpa rembulan. Ada yang terasa hilang memang. Tapi
selebihnya baik-baik saja. Tentu kini hanya bisa dibayangkannya
bagaimana rembulan itu seperti perahu yang membawa kelinci pada malam
hari dan mendarat di Pulau Jawa. Namun, tidakkah manusia lebih banyak
hidup dalam kepalanya daripada dalam dunia di luar batok kepalanya
itu? Apabila dunia kiamat, dan tidak ada sesuatu lagi kecuali dirinya
sendiri entah di mana, ia bahkan masih memiliki sebuah dunia di dalam
kepalanya. Tanpa rembulan di langit ia bisa melihat rembulan seperti
perahu membawa kelinci yang mendarat di Pulau Jawa.3

Rembulan itu berada di punggungnya sekarang, terbungkus dan tersimpan
dalam ransel-apakah ia berikan saja kepada bekas suaminya, yang
diketahuinya selalu bercita-cita memesan Rembulan dalam Cappuccino?
Kalau mau
kan banyak cappuccino instant di lemari dapur (ia lebih
tahu tempat itu daripada suaminya) dan meski rembulan di punggungnya
sekarang sebesar bola basket, nanti kalau mau dimasukkan cangkir akan
menyesuaikan diri menjadi sebesar bola pingpong. Dia dan bekas
suaminya sebetulnya sama-sama tahu betul hukum rembulan itu, tapi itu
cerita masa lalu- sekarang ia berada di sebuah jembatan dan sedang
berpikir, apakah akan dibuangnya saja rembulan itu ke sungai, seperti
membuang suatu masalah agar pergi menjauh selamanya dan tidak pernah
kembali? Setiap orang mempunyai peluang bernasib
malang, kenapa
dirinya harus menjadi perkecualian? Ia seperti sedang mencurigai
dirinya sendiri, jangan-jangan ia hanya mewajibkan dirinya berduka,
karena selayaknyalah seorang istri yang diceraikan dengan semena-mena
merasa terbuang, padahal perpisahan itu membuat peluangnya untuk
bahagia terbuka seluas semesta…

Dalam kegelapan tanpa rembulan, perempuan itu tidak bisa melihat
senyuman maupun air matanya sendiri di permukaan sungai yang mengalir
perlahan- dan ia tak tahu apakah masih harus mengutip Pablo Neruda.

Tonight I can write the saddest lines….

TIGA minggu kemudian, pada hari hujan yang pertama musim ini,
perempuan itu muncul lagi di kafe tersebut.

“Saya kembalikan rembulan ini, bisa diganti soto Betawi?”

Itulah masalahnya.

“Tidak bisa Puan, kami tidak punya soto Betawi, ini kan restoran
Itali?4

Nah!

Pondok Aren,

Minggu 31 Agustus 2003. 07:40.

keterangan

1. Kopi tradisional Italia, biasanya untuk sarapan-kopi espresso yang
dibubuhi susu panas dan buih, sering juga ditaburi cokelat, dalam
seduhan air panas 80 derajat celsius, dihidangkan dengan cangkir.
(Sumber: dari bungkus gula non- kalori Equal).

2. Tentang penyiksaan sesama manusia Indonesia, bisa dilacak dalam
sejumlah dokumen, antara lain, Pipit Rochijat, “Am I PKI or Non PKI?”
dalam
Indonesia edisi 40 (Oktober 1985); A Latief, Pleidoi Kol. A.
Latief: Soeharto Terlibat G 30 S (2000); Sulami, Perempuan-Kebenaran
dan Penjara (1999); Sudjinah, Terempas Gelombang Pasang (2003), dan
tentu saja Pramoedya Ananta Toer, Nyanyi Tunggal Seorang Bisu (1995).

3. Dari Sumanasantaka (sekitar 1204) karya Mpu Monaguna: “sang hyang
candra bangun bahitra dateng ing kulem amawa sasa mareng jawa.”
Tentang segi astronomi bait ini, apakah itu bulan sabit di cakrawala
sehingga bentuknya seperti perahu, ataukah bulan purnama, yang
memungkinkan gambaran seekor kelinci, baca PJ Zoetmulder, Kalangwan:
Sastra Jawa Kuno Selayang Pandang (1983), terjemahan Dick Hartoko,
h238.

4. Puedo escribir los versos mas triste esta noches-dari “Puedo
Escribir” (“Tonight I Can Write”) dalam Pablo Neruda (1904-1973), 20
Puemas de amor y una Cancion desesperada (Twenty Love Poems and a
Song of Despair), 1924, terjemahan ke dalam bahasa Inggris oleh WS
Merwin, terbit pertama kali tahun 1969.

credit by: Seno Gumira Adji darma

http://sukab.wordpress.com/2007/05/15/rembulan-dalam-cappuccino/