Jumat, 04 Juni 2010

Saat-saat di Angkot

Hari ini kota Yogyakarta bercuaca aneh, cuaca cerah tetapi segumpulan awan mulai berkumpul menjadi satu menandakan adanya hujan. Kami pun berencana pergi ke malioboro untuk mencari souvenir khas kota pelajar ini. Karena pergi dengan uang seadanya angkutan umum transportasi yang lumayan bagus untuk melaju kesana. Kopata merupakan angkutan pelajar mahasiswa maupun pelajar di kota ini. Angkutan ini bersifat lebih murah dan lebih merakyat. Kamipun memilih jalur 15 menuju ke Malioboro, sambil menunggu kopata dengan setia didepan Maskam UGM. Karena adanya perbaikan jalan, jalur disekitaran UGM menjadi macet dan lebih sempit. Itu semakin mempersulit untuk menaiki kopata karena banyak kendaraan yang melalu lintas jadi harus lebih berhati-hati agar tidak menjadi korban kecelakaan.
Jalur 15 mulai terlihat dengan kernet yang berdiri dan dengan tangan terjuntai sebelah dia meneriakkan malioboro,,maliboboro, kemudian orang-orang menaikinya. Dengan senyum yang sama sekali bisa dikatakan tidak ramah pak kernet menanyakan kearah mana tujuan dan dengan tersipu malu menjawab ke malioboro. Kemudian pak kernet menariki ongkos naik kopata ini, dengan bermodalkan uang Rp 2.500,- rupiah penumpang bisa sampai di Malioboro. Kamipun naik angkot kopata ini bersama mahasiswa yang lain, bau asap, keringat becucuran, apek, kotor, sampah rokok,kepanasan dan angin sepoi-sepoi malu-malu masuk melalui celah lubang anginpun terlihat. Pak kernet pun menagih ongkos dengan tertawa sambil menggoda.
Ketika sampai melewati mirota kampus angkot berhenti disitu bermaksud mencari penumpang lainnya dan disitu banyak pengamen jalanan masuk ke angkot, bermodalkan gitar mereka bernyanyi dengan berpakaian lusuh dan suara yang pas-pasan membuat hati semakin enggan memberikan mereka uang tetapi terlintas di benak ini jika tidak memberinya maka dia akan makan apa dan akankah mendapat penghasilan lainnya?maka dengan perasaan tak tega kami memberikan uang sekadarnya kepada si pengamen lusuh. Tidak hanya pengamen jalanan namun pedagang asongan pun naik ke angkot, menawarkan makanan kecil dan minuman ringan lainnya,tetapi entah mata ini tak tertarik sama sekali untuk meliriknya,karena takut sakit perut akibat jajan sembarangan maka tak ada minat untuk mencicipi jajanan yang sebetulnya bisa menyegarkan dahaga. Tak lama kemudian angkot mulai melaju terlihat awan gelap kemudian hujan rintik-rintik turun dengan malu-malunya kemudian turun dengan sangat derasnya. Karena bagian atas atap yang bocor dan sisi samping jendela yang tak bisa ditutup membuat air masuk ke angkot ini,secara tak langsung penumpang bermandikan air hujan. Celakanya kami lupa membawa payung ditambah lupa pula akan peringatan BMG yang menyatakan, “Yogyakarta selama 3 hari akan di guyur hujan deras ditambah petir yang menggelegar dan disertai dengan angin yang kencang”. Hal itu semakin membuat penumpang panik, ditambah jalanan macet dan banyak pohon di jalan yang tumbang membuat semakin takut,serta sesaat setelahnya listrikpun padam. Akhirnya, membuat ekspedisi untuk mencari souvenir kota jogja pun sirna karena hujan yang sangat deras dan petir menggelegar dimanapun ditambah angin yang kencang. Hal ini diperparah dengan pak supir yang menurunkan kami bukan di Malioboro tetapi di Beringharjo. Demi menahan dahaga, akhirnya mampir ke supermarket Progo bermaksud berteduh dan membiarkan baju kering. Hal ini mengingatkan jika bepergian menggunakan angkot akan berpikir terlebih dahulu, berbeda jika kami menggunakan trans Jogja yang menjadi maskot transportasi kota Jogja ini yang dilengkapi dengan fasilitas serba mewah maka tidak akan ada kata pengamen maupun pedagang asongan berjualan di bis ini. Tak akan adanya atap yang bocor, namun terlihat orang-orang yang berdiri berdesakan apabila tidak mendapatkan tempat duduk.
Ternyata pemerintah seharusnya melirik transportasi masyarakat kelas kebawah, apakah layak untuk umum atau tidaknya. Tidak hanya mengurusi transportasi kelas atas yang ditingkatkan baik dari jumlahnya maupun fasilitasnya. Hal ini membuat kita berpikir tentang kehidupan realita masyarakat ekonomi ke bawah itu seperti apa.

0 komentar:

Posting Komentar